Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang paling tua dan paling dekat dengan kehidupan manusia. Sejak zaman Yunani Kuno, drama telah menjadi medium untuk mengekspresikan gagasan, konflik, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui aksi dan dialog di atas panggung. Kata drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti “berbuat” atau “bertindak”, menandakan bahwa esensi utama drama adalah tindakan manusia.
Namun, untuk menciptakan sebuah drama yang kuat dan menyentuh, dibutuhkan beberapa unsur penting yang saling berkaitan — baik dari segi isi (intrinsik) maupun bentuk penyajiannya. Unsur-unsur inilah yang menjadi fondasi keberhasilan sebuah pertunjukan atau naskah drama.
1. Pengertian Drama
Drama dapat didefinisikan sebagai karya sastra yang berbentuk dialog dan ditulis untuk dipentaskan. Dalam drama, cerita disampaikan melalui percakapan antar tokoh dan tindakan yang mereka lakukan di atas panggung. Berbeda dengan prosa atau puisi, drama tidak banyak menggunakan narasi, tetapi lebih mengandalkan dialog, ekspresi, dan gerak.
Menurut Aristoteles dalam Poetica, drama adalah “tiruan dari suatu tindakan yang serius dan lengkap, yang memiliki ukuran tertentu dan disajikan bukan melalui narasi, melainkan melalui aksi”. Artinya, drama berfungsi meniru kehidupan manusia — dengan segala konflik, emosi, dan penyelesaiannya.
2. Ciri-Ciri Drama
Sebelum masuk ke unsur-unsur drama, ada baiknya memahami ciri khas yang membedakannya dari karya sastra lain:
-
Berbentuk dialog antar tokoh.
-
Dituangkan untuk dipentaskan, bukan hanya dibaca.
-
Mengandung konflik, baik batin maupun sosial.
-
Memiliki struktur dramatik, dari awal hingga klimaks dan penyelesaian.
-
Melibatkan unsur visual dan audio, seperti akting, musik, pencahayaan, dan properti.
-
Mencerminkan kehidupan nyata melalui tindakan tokohnya.
3. Unsur-Unsur Drama
Secara umum, unsur drama terbagi menjadi dua kategori besar: unsur intrinsik (yang membangun cerita dari dalam) dan unsur ekstrinsik (yang memengaruhi dari luar). Fokus utama pembahasan kali ini adalah unsur intrinsik karena itulah yang paling menentukan kekuatan dramatik sebuah karya.
A. Tema
Tema adalah gagasan pokok atau ide utama yang menjadi dasar cerita drama. Tema menuntun arah plot dan konflik. Ia bisa berupa persoalan cinta, keadilan, perjuangan, moralitas, pengkhianatan, atau keserakahan.
Contoh:
-
Dalam drama Hamlet karya Shakespeare, temanya adalah “pembalasan dendam dan pencarian kebenaran”.
-
Dalam drama Si Kabayan Jadi Raja, temanya adalah “kebijaksanaan orang kecil menghadapi kekuasaan”.
Tema harus kuat, universal, dan relevan agar dapat menyentuh penonton lintas waktu dan budaya.
B. Alur (Plot)
Alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk jalannya cerita. Dalam drama, alur biasanya disusun secara kronologis namun bisa juga maju-mundur tergantung kebutuhan dramatik.
Tahapan Alur dalam Drama:
-
Eksposisi (pengenalan)
Menyajikan latar, tokoh, dan situasi awal. -
Komplikasi (munculnya konflik)
Tokoh menghadapi masalah atau tantangan. -
Klimaks (puncak konflik)
Ketegangan mencapai titik tertinggi. -
Resolusi (penyelesaian)
Konflik diselesaikan — baik tragis maupun bahagia. -
Denouement (akhir cerita)
Menunjukkan kondisi akhir setelah konflik mereda.
Alur yang baik harus logis, menarik, dan menimbulkan ketegangan emosional pada penonton.
C. Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan karakter tokoh tersebut — baik dari ucapan, tindakan, maupun reaksi terhadap situasi.
Jenis-jenis tokoh dalam drama:
-
Tokoh utama (protagonis) – pusat cerita, biasanya membawa nilai positif.
-
Tokoh lawan (antagonis) – menentang tokoh utama, menimbulkan konflik.
-
Tokoh pendukung (tritagonis) – membantu atau menengahi konflik.
-
Tokoh figuran – pelengkap yang memberi suasana.
Penokohan dapat dilakukan melalui dua cara:
-
Langsung (analitik): sifat tokoh dijelaskan secara eksplisit oleh narator.
-
Tidak langsung (dramatik): sifat tokoh ditunjukkan melalui tindakan dan dialog.
Tokoh yang kuat dan hidup membuat drama terasa nyata, sebab penonton bisa mengenali sisi kemanusiaannya.
D. Dialog
Dialog adalah percakapan antar tokoh yang menjadi sarana utama penyampaian cerita. Dalam drama, dialog memiliki fungsi ganda:
-
Menyampaikan alur dan konflik.
-
Menggambarkan karakter tokoh.
-
Menyampaikan pesan atau amanat pengarang.
Dialog yang baik harus:
-
Alami dan tidak bertele-tele.
-
Mampu menimbulkan emosi dan ketegangan.
-
Mengandung subteks — makna tersirat di balik kata.
Selain dialog, ada pula monolog (ucapan satu tokoh) dan aside (ucapan tokoh kepada penonton yang tidak didengar tokoh lain).
E. Latar (Setting)
Latar mencakup waktu, tempat, dan suasana yang menjadi konteks peristiwa drama. Latar tidak hanya memberi informasi “di mana” dan “kapan” peristiwa terjadi, tetapi juga menciptakan nuansa emosional.
Jenis latar:
-
Latar tempat: lokasi peristiwa (rumah, istana, hutan, dll.).
-
Latar waktu: kapan peristiwa terjadi (pagi, malam, zaman tertentu).
-
Latar suasana: kondisi emosional (tegang, gembira, suram).
Dalam pementasan, latar diwujudkan melalui dekorasi panggung, pencahayaan, musik, dan properti, sehingga menjadi unsur visual yang kuat.
F. Konflik
Konflik adalah pertentangan antar kepentingan yang menjadi inti dari drama. Tanpa konflik, drama tidak akan menarik.
Jenis konflik:
-
Konflik internal: terjadi dalam batin tokoh (misalnya antara kewajiban dan keinginan).
-
Konflik eksternal: antara tokoh dan tokoh lain, atau dengan lingkungan/sistem.
Contoh:
-
Konflik internal: tokoh utama harus memilih antara cinta dan tanggung jawab.
-
Konflik eksternal: rakyat melawan penguasa yang zalim.
Konflik harus berkembang secara bertahap menuju klimaks agar memberi efek dramatis.
G. Amanat
Amanat adalah pesan moral atau nilai kehidupan yang ingin disampaikan pengarang kepada penonton. Amanat bisa eksplisit (diucapkan langsung) atau implisit (tersirat dari tindakan dan akibat).
Contoh amanat:
-
Kejujuran akan menang pada akhirnya.
-
Kekuasaan tanpa moral akan membawa kehancuran.
-
Cinta sejati membutuhkan pengorbanan.
Amanat yang kuat membuat drama tidak sekadar hiburan, melainkan juga sarana refleksi sosial dan etika.
H. Bahasa
Bahasa dalam drama memiliki peran ganda — sebagai alat komunikasi antar tokoh dan sebagai medium artistik. Gaya bahasa drama harus:
-
Sesuai dengan karakter tokoh dan latar sosialnya.
-
Efektif dan ritmis, sehingga mudah diucapkan di panggung.
-
Mengandung kekuatan ekspresif (intonasi, tempo, jeda).
Bahasa juga menentukan genre drama:
-
Bahasa puitis → drama romantik atau tragedi.
-
Bahasa lugas → drama realistik atau komedi.
I. Musik dan Bunyi
Musik dalam drama berfungsi memperkuat suasana emosional. Nada, ritme, dan efek suara dapat menciptakan ketegangan, kebahagiaan, atau kesedihan. Musik latar (background score) juga membantu transisi antar adegan dan memperdalam makna.
Selain musik, bunyi seperti langkah kaki, pintu terbuka, atau petir menjadi unsur penting dalam menciptakan realitas panggung (sound effect).
J. Tata Panggung (Setting Visual)
Tata panggung mencakup semua elemen visual: dekorasi, properti, kostum, tata cahaya, dan tata warna. Unsur ini membantu penonton memahami konteks cerita tanpa perlu penjelasan verbal panjang.
Contohnya:
-
Cahaya merah redup → suasana tegang atau marah.
-
Kostum tradisional → menggambarkan latar budaya tertentu.
-
Properti seperti kursi singgasana → menunjukkan status sosial tokoh.
4. Unsur Ekstrinsik Drama
Selain unsur intrinsik, drama juga dipengaruhi faktor luar (ekstrinsik) yang membentuk makna dan interpretasinya.
-
Latar sosial dan budaya – menggambarkan nilai-nilai masyarakat tempat drama lahir.
-
Pandangan hidup pengarang – ideologi, moral, atau keyakinan pribadi yang memengaruhi tema.
-
Kondisi sejarah dan politik – misalnya drama perjuangan kemerdekaan lahir dari semangat nasionalisme.
-
Tujuan pementasan – apakah untuk hiburan, kritik sosial, atau pendidikan.
Dengan memahami unsur ekstrinsik, penonton dapat menafsirkan makna drama lebih mendalam.
5. Jenis-Jenis Drama Berdasarkan Unsur dan Tujuan
Drama dapat diklasifikasikan dari berbagai segi, di antaranya:
A. Berdasarkan Isinya
-
Tragedi – cerita berakhir sedih, menampilkan penderitaan tokoh utama.
Contoh: Romeo dan Juliet. -
Komedi – bertujuan menghibur, berakhir bahagia, penuh kelucuan.
Contoh: Laskar Pelangi (versi panggung). -
Tragikomedi – gabungan unsur tragis dan komedi, mencerminkan kehidupan nyata.
-
Melodrama – menonjolkan emosi berlebihan, sering sentimental.
-
Farce – komedi kasar yang menekankan situasi lucu tanpa makna mendalam.
B. Berdasarkan Bentuk Pementasan
-
Drama panggung – dimainkan langsung di depan penonton.
-
Drama radio – disiarkan lewat audio tanpa visual.
-
Drama televisi/film – divisualisasikan dengan teknologi kamera.
-
Drama musikal – dipadukan dengan nyanyian dan tarian.
-
Teater eksperimental – lebih bebas dalam bentuk dan pesan.
6. Contoh Analisis Unsur Drama
Sebagai ilustrasi, berikut contoh analisis sederhana drama “Malin Kundang” versi panggung:
| Unsur | Penjabaran |
|---|---|
| Tema | Anak durhaka yang lupa diri setelah sukses. |
| Tokoh | Malin Kundang (protagonis), Ibu Malin (antagonis moral), Istri Malin (pendukung). |
| Alur | Kronologis: kemiskinan → keberhasilan → pengkhianatan → kutukan. |
| Latar | Desa pesisir Sumatera, zaman dahulu. |
| Konflik | Pertentangan batin ibu dan anak antara cinta dan kekecewaan. |
| Amanat | Jangan sombong dan durhaka pada orang tua. |
| Bahasa | Dialog sederhana dengan logat daerah. |
| Tata panggung | Kapal, pantai, rumah gubuk, efek petir untuk adegan kutukan. |
7. Fungsi dan Tujuan Unsur Drama
Unsur-unsur drama bukan hanya hiasan, melainkan memiliki fungsi penting:
-
Menstrukturkan cerita agar logis dan mengalir.
-
Membangun emosi dan keterlibatan penonton.
-
Menciptakan realitas di panggung yang meyakinkan.
-
Mengkomunikasikan pesan moral secara efektif.
-
Menjadi panduan produksi bagi sutradara dan pemain.
Dengan keseimbangan unsur-unsur ini, sebuah drama bisa menjadi karya yang tak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran sosial.
Drama adalah bentuk seni yang kompleks, memadukan unsur sastra, seni peran, musik, dan visual. Unsur-unsur utama seperti tema, alur, tokoh, dialog, latar, konflik, amanat, bahasa, musik, dan tata panggung saling berhubungan membentuk satu kesatuan yang utuh.
Tanpa salah satu di antaranya, drama akan kehilangan daya hidupnya. Misalnya, dialog tanpa karakter kuat akan terasa hambar, atau konflik tanpa latar emosional akan terasa datar. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan unsur-unsur drama secara seimbang adalah kunci keberhasilan baik bagi penulis naskah maupun sutradara.
Drama pada akhirnya bukan hanya hiburan, tetapi juga cermin kehidupan — tempat manusia belajar tentang cinta, penderitaan, pengorbanan, dan harapan. Unsur-unsur drama menjadi alat bagi seniman untuk memanggungkan kebenaran hidup, mengajak penonton bukan sekadar menonton, tetapi merasakan dan merenungkan.
MASUK PTN